Setelah wukuf di Arafah, jemaah bergerak menuju Muzdalifah. Di tempat inilah jemaah bermalam sejenak (mabit melewati tengah malam), memperbanyak dzikir dan doa, serta mengambil batu-batu kecil untuk lempar jumrah. Batu itu hanyalah sarana. Yang terpenting bukan batunya, tetapi tekad yang dibangun di dalam hati.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Mina untuk lempar Jumratul Aqabah, atau langsung ke Makkah untuk thawaf ifadah — keduanya boleh dipilih sesuai keadaan.
Catatan Fikih Ringkas
Jika lempar jumrah lebih dulu dilakukan, maka tahalul awal (mencukur atau menggunting rambut) dilakukan di Mina,
dan tahalul tsani dilakukan setelah thawaf ifadah (tahalul tsani tidak ditandai
dengan mencukur rambut). Jika memilih langsung ke Masjidil Haram
untuk thawaf ifadah sebelum lempar jumrah, maka tahalul
awal dilakukan di Masjidil Haram, yakni di Marwah setelah sa'i selesai,
sedangkan tahalul tsani dilakukan setelah lempar jumrah Aqabah (tahalul tsani
tidak perlu mencukur rambut).
Saat
lempar jumrah sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji, jangan pernah
membayangkan bahwa yang dilempar adalah setan yang berada di tiang atau dinding
jumrah. Setan tidak tinggal di sana. Setan berada di mana saja, bahkan berusaha
memasuki hati manusia.
Lempar jumrah adalah simbol penolakan terhadap semua godaan yang menjauhkan manusia dari Allah. Setiap lemparan hendaknya disertai tekad untuk membuang sifat-sifat buruk yang selama ini menguasai diri: kesombongan, amarah, iri hati, kebakhilan, kedengkian, kemalasan beribadah, serta kecintaan yang berlebihan kepada dunia.
Nabi Ibrahim 'alaihissalam berhasil mengalahkan godaan setan dengan
ketaatan yang sempurna kepada Allah. Demikian pula seorang jemaah haji. Yang
diuji bukan kekuatan tangan saat melempar batu, melainkan kekuatan hati untuk tetap taat kepada Allah dalam keadaan
apa pun.
Di Mina pula jutaan manusia berkumpul dalam ruang yang terbatas. Karena itu, kesabaran, kedisiplinan, dan kepedulian kepada sesama menjadi bagian dari ibadah. Jangan saling mendorong, jangan memaksakan kehendak, dan jangan mudah marah. Membantu sesama jemaah, menjaga keselamatan bersama, serta menaati arahan petugas adalah akhlak mulia yang bernilai ibadah.
Ketika seluruh
rangkaian di Mina selesai, hendaknya setiap jemaah bertanya kepada
dirinya sendiri: apakah yang telah benar-benar aku lempar? Hanya batu,
atau sifat-sifat buruk dalam diriku?
Jika yang berubah
hanya lokasi perjalanan, tetapi hati tetap sama, maka hikmah lempar jumrah
belum sepenuhnya diraih. Namun apabila setelah kembali dari Tanah Suci
seseorang menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih rendah hati, lebih menjaga salat,
dan lebih mencintai
Allah, itulah tanda bahwa
ibadah hajinya telah meninggalkan bekas yang baik dalam kehidupannya.
RENUNGAN
Jangan hanya melempar batu
ke tiang atau dinding jumrah. Lemparlah kesombongan, amarah, iri hati, dan
semua dosa yang menghalangi jalan menuju ridha Allah.









