"… Mengerjakan haji adalah kewajiban
manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan
perjalanan ke Baitullah…"
(QS.
Ali ‘Imran: 97)
Banyak orang memahami bahwa syarat berhaji hanyalah mampu secara ekonomi. Padahal, Al-Qur'an tidak mengatakan, “bagi orang yang kaya.” Allah menggunakan satu kata yang jauh lebih dalam, yaitu mampu (istitha'ah).
Mampu bukan hanya memiliki harta. Mampu adalah ketika Allah menganugerahkan kesempatan, kesehatan, keamanan, ilmu, dan jalan untuk memenuhi panggilan- Nya. Karena itu, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, tetapi belum mendapat kesempatan berhaji. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun Allah membukakan jalan yang tidak pernah disangkanya. Di sinilah kita belajar bahwa haji bukan semata hasil usaha manusia, tetapi juga karunia Allah.
Sesungguhnya, yang paling dahulu dipanggil bukanlah kaki kita. Yang paling dahulu dipanggil adalah hati. Hati yang mulai rindu kepada Ka'bah. Hati yang ingin memperbaiki diri. Hati yang ingin lebih dekat kepada Allah. Kerinduan itulah yang kemudian menggerakkan ikhtiar.
Seseorang mulai menabung sedikit demi sedikit. Ia menjaga kesehatan, memperbanyak ilmu, memperbaiki ibadah, dan memperbanyak doa. Semua itu bukan sekadar persiapan perjalanan, tetapi proses Allah mendidik hamba-Nya agar pantas menjadi tamu-Nya. Namun ada satu pertanyaan yang lebih penting daripada, “apakah saya sudah mampu berhaji?” Yaitu, “apakah saya sudah mempersiapkan diri untuk bertemu Allah?” Sebab haji adalah latihan menuju perjumpaan terbesar, yaitu ketika setiap manusia berdiri di hadapan Rabb-nya.
Orang yang mempersiapkan haji hanya dengan bekal materi mungkin akan sampai ke Makkah. Tetapi orang yang mempersiapkan haji dengan bekal iman, ilmu, kesabaran, kejujuran, dan keikhlasan, insya Allah akan sampai kepada ridha Allah. Karena itu, persiapan haji tidak dimulai ketika paspor selesai dibuat. Tidak dimulai ketika koper diisi. Tidak dimulai ketika tiket telah diterbitkan. Persiapan haji dimulai ketika seseorang berkata kepada dirinya sendiri, “mulai hari ini aku ingin menjadi hamba yang lebih baik.” Itulah langkah pertama menuju Baitullah.
Amanah dalam Menunggu
Bagi sebagian orang, panggilan Allah datang dengan segera. Bagi yang lain, Allah meminta mereka menunggu. Jangan mengira masa tunggu adalah masa yang sia-sia. Justru di situlah Allah sedang mendidik kesabaran, menguatkan keyakinan, dan menguji kesungguhan hati. Orang yang setiap hari menjaga salatnya, memperbaiki akhlaknya, menunaikan amanahnya, serta terus berdoa agar dipanggil ke Baitullah, sesungguhnya sedang menempuh perjalanan menuju Allah, meskipun kakinya belum menginjak Tanah Suci. Sebab jarak menuju Ka'bah diukur dengan kilometer. Tetapi jarak menuju Allah diukur dengan ketakwaan.









