"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun
untuk (tempat beribadah) manusia
ialah Baitullah di Bakkah
(Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam."
(QS.
Ali ‘Imran: 96)
Di
dunia ini terdapat banyak bangunan yang lebih tinggi daripada Ka'bah. Ada
bangunan yang lebih megah, ada yang lebih indah,
ada yang lebih mahal. Namun,
mengapa Allah menjadikan Ka'bah sebagai pusat perhatian lebih dari dua
miliar kaum muslimin?
Karena
kemuliaan tidak ditentukan oleh kemegahan bangunannya. Kemuliaan ditentukan
oleh siapa yang memuliakannya. Allah memuliakan Ka'bah.
Karena
itu, setiap hari, jutaan manusia menghadap ke arahnya ketika salat. Tidak
peduli berada di Indonesia, Afrika, Eropa, Amerika,
atau negara mana pun, semuanya menghadap ke satu kiblat yang
sama.
Mengapa
hanya satu kiblat? Karena Allah ingin mengajarkan bahwa kehidupan seorang
mukmin harus memiliki satu arah dan satu tujuan.
Dalam hidup ini, manusia memiliki banyak kesibukan: mencari nafkah, membangun keluarga, menuntut ilmu, mengembangkan usaha, mengabdi kepada masyarakat.
Semuanya penting. Namun, semua itu jangan sampai menjadi tujuan hidup. Semuanya hanyalah jalan. Sedangkan tujuan akhirnya hanya satu, yaitu mencari ridha Allah SWT.
Ka'bah mengajarkan bahwa hidup akan menjadi tenang apabila hati memiliki satu pusat. Hati yang menjadikan Allah sebagai pusat hidupnya tidak akan mudah goyah oleh pujian. Tidak akan sombong ketika berhasil. Tidak akan putus asa ketika gagal. Karena ia tahu bahwa yang paling penting bukanlah penilaian manusia, tetapi penilaian Allah.
Thawaf: Mengelilingi Pusat Kehidupan
Ketika
thawaf, kita mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Mengapa bukan Ka'bah yang
mengelilingi manusia? Karena Allah sedang mengajarkan bahwa bukan agama yang
harus mengikuti keinginan manusia, tetapi manusialah yang harus mengikuti
aturan Allah.
Di
zaman sekarang, banyak orang ingin agama menyesuaikan hawa nafsunya. Yang sulit
ingin dipermudah. Yang haram ingin dihalalkan. Yang wajib ingin ditinggalkan.
Padahal seorang mukmin sejati justru menyesuaikan hidupnya dengan petunjuk
Allah.
Sebagaimana seluruh putaran thawaf selalu mengelilingi Ka'bah, demikian pula seluruh keputusan hidup kita harus mengelilingi nilai-nilai yang Allah tetapkan.
Jika
Allah menjadi pusat kehidupan, maka keluarga akan lebih harmonis. Usaha menjadi
lebih jujur. Jabatan menjadi lebih amanah. Ilmu menjadi lebih bermanfaat.
Kekayaan menjadi lebih berkah.
Ka'bah
Mengajarkan Persatuan
Di hadapan Ka'bah tidak ada perbedaan bangsa. Tidak ada perbedaan warna kulit. Tidak ada perbedaan bahasa. Semua mengucapkan kalimat yang sama. Semua bersujud kepada Tuhan yang sama. Semua berharap ampunan dari Allah yang sama.
Di sinilah kita belajar bahwa Islam mempersatukan manusia bukan karena suku, organisasi, atau kedudukannya. Islam mempersatukan manusia karena keimanan kepada Allah.
Maka sangatlah disayangkan apabila setelah pulang dari Tanah Suci, hati kita masih dipenuhi permusuhan, iri hati, dan kebencian kepada sesama muslim. Bagaimana mungkin kita pernah thawaf mengelilingi satu Ka'bah, tetapi masih sulit memelihara persaudaraan?
RENUNGAN
Cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah Allah benar-benar telah menjadi pusat kehidupanku? Ataukah selama ini pusat hidupku adalah harta, jabatan, popularitas, atau penilaian manusia?
Jika pusat kehidupan kita
salah, maka seluruh langkah hidup akan kehilangan arah.
Tetapi jika Allah
menjadi pusat kehidupan kita, insya Allah setiap
langkah akan bernilai ibadah, setiap keputusan akan dipenuhi keberkahan, dan
setiap ujian akan mendekatkan kita kepada-Nya.
Ketika thawaf, tubuh kita
memang mengelilingi Ka'bah. Namun yang lebih penting adalah, setelah pulang,
biarlah seluruh hidup kita berputar mengelilingi ridha Allah. Itulah hakikat
seorang mukmin. Ke mana pun ia melangkah, apa pun pekerjaannya, di mana pun ia
berada, Allah tetap menjadi pusat kehidupannya.









