• Jl.Raya Kupang Jaya 1 Kav. 6 Surabaya

Travel Atria

7. KA'BAH - Pusat Kehidupan Seorang Mukmin

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam."

(QS. Ali ‘Imran: 96)

 

Di dunia ini terdapat banyak bangunan yang lebih tinggi daripada Ka'bah. Ada bangunan yang lebih megah, ada yang lebih indah, ada yang lebih mahal. Namun, mengapa Allah menjadikan Ka'bah sebagai pusat perhatian lebih dari dua miliar kaum muslimin?

Karena kemuliaan tidak ditentukan oleh kemegahan bangunannya. Kemuliaan ditentukan oleh siapa yang memuliakannya. Allah memuliakan Ka'bah.

Karena itu, setiap hari, jutaan manusia menghadap ke arahnya ketika salat. Tidak peduli berada di Indonesia, Afrika, Eropa, Amerika, atau negara mana pun, semuanya menghadap ke satu kiblat yang sama.

Mengapa hanya satu kiblat? Karena Allah ingin mengajarkan bahwa kehidupan seorang mukmin harus memiliki satu arah dan satu tujuan.

Dalam hidup ini, manusia memiliki banyak kesibukan: mencari nafkah, membangun keluarga, menuntut ilmu, mengembangkan usaha, mengabdi kepada masyarakat.

Semuanya penting. Namun, semua itu jangan sampai menjadi tujuan hidup. Semuanya hanyalah jalan. Sedangkan tujuan akhirnya hanya satu, yaitu mencari ridha Allah SWT. 

Ka'bah mengajarkan bahwa hidup akan menjadi tenang apabila hati memiliki satu pusat. Hati yang menjadikan Allah sebagai pusat hidupnya tidak akan mudah goyah oleh pujian. Tidak akan sombong ketika berhasil. Tidak akan putus asa ketika gagal. Karena ia tahu bahwa yang paling penting bukanlah penilaian manusia, tetapi penilaian Allah.

 

Thawaf: Mengelilingi Pusat Kehidupan

Ketika thawaf, kita mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Mengapa bukan Ka'bah yang mengelilingi manusia? Karena Allah sedang mengajarkan bahwa bukan agama yang harus mengikuti keinginan manusia, tetapi manusialah yang harus mengikuti aturan Allah.

Di zaman sekarang, banyak orang ingin agama menyesuaikan hawa nafsunya. Yang sulit ingin dipermudah. Yang haram ingin dihalalkan. Yang wajib ingin ditinggalkan. Padahal seorang mukmin sejati justru menyesuaikan hidupnya dengan petunjuk Allah.

Sebagaimana seluruh putaran thawaf selalu mengelilingi Ka'bah, demikian pula seluruh keputusan hidup kita harus mengelilingi nilai-nilai yang Allah tetapkan.

Jika Allah menjadi pusat kehidupan, maka keluarga akan lebih harmonis. Usaha menjadi lebih jujur. Jabatan menjadi lebih amanah. Ilmu menjadi lebih bermanfaat. Kekayaan menjadi lebih berkah.

 

Ka'bah Mengajarkan Persatuan

Di hadapan Ka'bah tidak ada perbedaan bangsa. Tidak ada perbedaan warna kulit. Tidak ada perbedaan bahasa. Semua mengucapkan kalimat yang sama. Semua bersujud kepada Tuhan yang sama. Semua berharap ampunan dari Allah yang sama.

Di sinilah kita belajar bahwa Islam mempersatukan manusia bukan karena suku, organisasi, atau kedudukannya. Islam mempersatukan manusia karena keimanan kepada Allah.

Maka sangatlah disayangkan apabila setelah pulang dari Tanah Suci, hati kita masih dipenuhi permusuhan, iri hati, dan kebencian kepada sesama muslim. Bagaimana mungkin kita pernah thawaf mengelilingi satu Ka'bah, tetapi masih sulit memelihara persaudaraan?


RENUNGAN

Cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah Allah benar-benar telah menjadi pusat kehidupanku? Ataukah selama ini pusat hidupku adalah harta, jabatan, popularitas, atau penilaian manusia?

Jika pusat kehidupan kita salah, maka seluruh langkah hidup akan kehilangan arah. Tetapi jika Allah menjadi pusat kehidupan kita, insya Allah setiap langkah akan bernilai ibadah, setiap keputusan akan dipenuhi keberkahan, dan setiap ujian akan mendekatkan kita kepada-Nya.

Ketika thawaf, tubuh kita memang mengelilingi Ka'bah. Namun yang lebih penting adalah, setelah pulang, biarlah seluruh hidup kita berputar mengelilingi ridha Allah. Itulah hakikat seorang mukmin. Ke mana pun ia melangkah, apa pun pekerjaannya, di mana pun ia berada, Allah tetap menjadi pusat kehidupannya.