“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.
Sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu.
Tiada sekutu bagi-Mu.”
Begitu seorang
muslim mengenakan ihram,
lisannya mulai mengucapkan talbiyah.
Berulang-ulang. Siang dan malam.
Di kendaraan. Di hotel. Di jalan. Hingga memasuki Masjidil Haram.
Mengapa
kalimat ini diulang berkali-kali? Apakah Allah tidak mendengar jika hanya diucapkan sekali?
Tentu Allah Maha Mendengar.
Sesungguhnya bukan Allah yang membutuhkan pengulangan itu. Kitalah yang membutuhkannya, karena hati manusia mudah lupa. Talbiyah adalah cara Allah mengingatkan hamba-Nya tentang tujuan perjalanan ini.
Kalimat pertama berbunyi, “Labbaik Allahumma Labbaik,” artinya “Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.” Kalimat ini bukan sekadar ucapan. Ini adalah sebuah janji. Janji untuk menaati Allah. Janji untuk mendahulukan perintah-Nya daripada keinginan diri sendiri. Janji untuk meninggalkan segala yang dimurkai- Nya.
Pertanyaannya
adalah, benarkah kita telah memenuhi panggilan Allah? Kita datang ke Tanah
Suci. Namun, apakah kita juga datang dengan hati yang tunduk? Kita mengucapkan
“labbaik.” Namun, apakah dalam kehidupan sehari-hari kita juga menjawab
panggilan Allah ketika azan
berkumandang?
Talbiyah
bukan hanya untuk musim haji. Talbiyah adalah sikap hidup seorang mukmin.
Setiap kali Allah memerintahkan salat, jawaban kita adalah “labbaik.” Setiap
kali Allah memerintahkan berlaku jujur, jawaban kita adalah “labbaik.” Setiap
kali Allah memerintahkan menjaga amanah, jawaban kita adalah “labbaik.” Setiap
kali Allah melarang kezaliman, kebohongan, dan pengkhianatan, jawaban kita
tetap sama: “labbaik.”
Inilah makna
terdalam talbiyah. Bukan
sekadar diucapkan, tetapi
diwujudkan.
Kalimat
berikutnya berbunyi, “laa syarika laka,” tiada sekutu bagi-Mu. Artinya, tidak
boleh ada sesuatu
pun yang lebih kita cintai
daripada Allah. Tidak boleh ada jabatan yang
membuat kita melupakan-Nya. Tidak boleh ada harta
yang menjauhkan kita dari-Nya. Tidak boleh ada kepentingan yang membuat kita
mengkhianati amanah.
Kemudian kita mengucapkan, “innal hamda wan-ni'mata laka wal mulk” — segala puji, segala nikmat, seluruh kekuasaan, semuanya milik Allah. Maka, jika hari ini Allah memberi kita kesehatan, bersyukurlah. Jika Allah memberi rezeki, bersyukurlah. Jika Allah memberikan kesempatan berhaji, jangan berbangga. Karena semuanya hanyalah titipan. Tidak ada satu pun yang benar-benar milik kita.
Semakin
sering talbiyah diucapkan, semakin seharusnya kesombongan menghilang. Karena
seorang tamu tidak pantas menyombongkan dirinya di rumah Sang Pemilik.
RENUNGAN
Cobalah sejenak
kita bertanya kepada
hati. Berapa ribu kali kita mengucapkan, “labbaik Allahumma
labbaik.” Namun, berapa kali kita benar-benar menjawab panggilan Allah
dalam kehidupan kita?
Jangan sampai lisan berkata,
“aku datang memenuhi panggilan- Mu,” tetapi kehidupan kita justru menjauh dari
perintah-Nya. Jangan sampai talbiyah hanya terdengar di Tanah Suci, lalu
menghilang ketika kita kembali ke rumah.
Karena sesungguhnya, seorang
hamba yang benar bukan hanya berkata “labbaik” di hadapan Ka'bah. Ia mengucapkan “labbaik”
setiap kali Allah memanggilnya kepada kebaikan. Maka, ketika
suatu hari nanti perjalanan haji dan umrah telah selesai, jangan biarkan talbiyah
berhenti. Biarkan ia terus bergema
di dalam hati.
Setiap akan salat… labbaik. Setiap akan menunaikan amanah… labbaik. Setiap harus memilih antara kebenaran dan kepentingan… labbaik. Setiap kali Allah memanggil melalui ayat- ayat-Nya… labbaik Allahumma labbaik.
Karena seorang mukmin sejati
adalah ia yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai jawaban atas
panggilan Allah.










