• Jl.Raya Kupang Jaya 1 Kav. 6 Surabaya

Travel Atria

8. ARAFAH - Tempat Mengenal Diri dan Kembali Kepada Allah

"Haji itu adalah Arafah."

(HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An- Nasa'i, dan Ibnu Majah)

 

Di antara seluruh rangkaian ibadah haji, ada satu tempat yang paling menentukan. Bukan Ka'bah. Bukan Mina. Bukan Muzdalifah. Tetapi Padang Arafah. Rasulullah SAW bahkan bersabda, “haji itu adalah Arafah.” 


Mengapa Arafah begitu istimewa? Karena di sanalah Allah mengajarkan manusia untuk mengenal dirinya sendiri. Kata Arafah berasal dari akar kata 'arafa yang berarti mengetahui, mengenal, atau menyadari.



Di Arafah, seorang hamba mulai mengenal siapa dirinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sering merasa kuat, padahal hidupnya sepenuhnya bergantung kepada Allah. Ia merasa memiliki banyak harta, padahal semua hanyalah titipan. Ia merasa memiliki waktu yang panjang, padahal umur tidak pernah ada yang mengetahui.

Di Padang Arafah, manusia tidak sedang menunjukkan kehebatannya. Ia sedang mengakui kelemahannya. Di sana tidak ada yang datang untuk dipuji. Semua datang untuk memohon ampun. Semua menengadahkan tangan. Semua berharap rahmat Allah.

Air mata yang jatuh di Arafah bukanlah tanda kelemahan. Itulah tanda hati yang mulai hidup.

 

Arafah adalah Gambaran Hari Akhir

Cobalah pandang jutaan manusia yang berdiri di Padang Arafah. Mereka mengenakan pakaian sederhana. Mereka tidak membawa kemewahan. Mereka tidak membawa jabatan. Mereka tidak membawa kebanggaan dunia. Bukankah pemandangan itu mengingatkan kita kepada hari ketika seluruh manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar? Pada hari itu, tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya dengan harta, tidak pula dengan kedudukan. Yang menyelamatkan hanyalah rahmat Allah dan amal saleh.

Karena itu, wukuf di Arafah sesungguhnya adalah latihan sebelum datangnya perjumpaan yang sebenarnya dengan Allah. Allah seakan berkata kepada hamba-Nya, “hari ini engkau berdiri di Arafah. Kelak engkau akan berdiri di hadapan-Ku. Maka persiapkanlah dirimu.”

 

Hari Pengampunan

Tidak ada hari ketika Allah membebaskan begitu banyak hamba dari api neraka melebihi hari Arafah. Betapa besar kasih sayang Allah. Dia  mengetahui bahwa manusia penuh dosa. Karena itu Dia membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. Yang dibutuhkan hanyalah kerendahan hati untuk mengakuinya. Seringkali yang menghalangi ampunan Allah bukanlah besarnya dosa, melainkan besarnya kesombongan. Orang yang merasa dirinya selalu benar akan sulit bertobat. Sebaliknya, orang yang mengakui kesalahannya akan lebih mudah memperoleh rahmat Allah.


Maka, jangan sia-siakan waktu di Arafah untuk memikirkan urusan dunia. Gunakanlah setiap detiknya untuk berdialog dengan Allah. Sampaikan seluruh penyesalan. Ungkapkan seluruh harapan. Mohonlah agar Dia mengampuni dosa-dosa yang tidak diketahui orang lain. Sebab tidak ada tempat yang lebih aman untuk mencurahkan isi hati selain di hadapan Allah.


Arafah tidak boleh berakhir di Arafah. Wukuf hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi kesadaran yang lahir di Arafah harus bertahan seumur hidup.

Jika setelah pulang kita kembali sombong, kembali lalai, kembali menyakiti orang lain, maka kita belum membawa pulang pelajaran dari Arafah.

Arafah mengajarkan bahwa manusia terbaik bukanlah yang paling sedikit dosanya, melainkan yang paling banyak bertobat dan terus memperbaiki diri.


RENUNGAN

Seandainya hari ini Allah memberi kesempatan kepada kita berdiri di Arafah, lalu Dia bertanya, “wahai hamba-Ku, apakah yang paling engkau sesali dalam hidupmu?” Apakah jawaban kita?

Dan seandainya Allah bertanya lagi, “jika Aku masih memberimu waktu, kehidupan seperti apakah yang akan engkau jalani?” Apakah kita tetap menjadi pribadi yang sama? Ataukah kita akan memulai hidup yang baru?

Sesungguhnya, Arafah bukan sekadar tempat untuk menangis. Arafah adalah tempat untuk dilahirkan kembali. Karena orang yang benar-benar mengenal dirinya akan lebih mudah mengenal Tuhannya. Dan orang yang telah mengenal Tuhannya tidak akan menyia-nyiakan sisa umurnya.

Maka jangan hanya berdiri di Padang Arafah. Berdirilah di hadapan Allah dengan hati yang penuh penyesalan, harapan, dan tekad untuk menjadi hamba yang lebih baik. Itulah wukuf yang sesungguhnya.