• Jl.Raya Kupang Jaya 1 Kav. 6 Surabaya

Travel Atria

10. MABRUR - Tujuan Akhir Sebuah Perjalanan

"Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga."

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Setiap jemaah berangkat dengan harapan yang sama: “Ya Allah, jadikan hajiku haji yang mabrur.” Namun, apakah yang dimaksud dengan mabrur?

Apakah mabrur berarti telah menyelesaikan seluruh rangkaian manasik? Apakah mabrur berarti telah mencium Hajar Aswad? Apakah mabrur berarti telah berkali-kali berhaji atau berumrah? Tidak. Mabrur jauh lebih dalam daripada itu.

Kata mabrur berasal dari akar kata barra yang mengandung makna kebaikan, kejujuran, ketaatan, dan kesempurnaan dalam menunaikan amanah. Karena itu, haji mabrur bukan sekadar haji yang selesai dikerjakan, melainkan haji yang diterima oleh Allah dan melahirkan kebaikan dalam kehidupan.


Sesungguhnya hanya Allah yang mengetahui siapa yang memperoleh kemabruran. Bukan manusia. Maka, seseorang tidak perlu sibuk mengaku dirinya mabrur. Yang harus dilakukan adalah terus menjaga agar nilai-nilai haji tetap hidup dalam dirinya.


Tanda-Tanda Kemabruran

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu tanda haji yang mabrur adalah kehidupan setelah haji menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Bukan hanya ibadahnya yang bertambah, tetapi juga akhlaknya. Lisannya lebih lembut. Salatnya lebih terjaga. Amanahnya semakin kuat. Kejujurannya semakin nyata. Kasih sayangnya semakin luas. Ia menjadi ringan membantu sesama. Mudah memaafkan. Sulit menyakiti orang lain. Tidak lagi menjadikan haji sebagai gelar kebanggaan, melainkan sebagai pengingat bahwa dirinya pernah berjanji kepada Allah untuk hidup lebih baik.

Jika sebelum berhaji seseorang masih mudah berdusta, lalu setelah berhaji ia menjaga kejujuran… jika dahulu ia mudah mengingkari janji, lalu kini ia menjadi orang paling dapat dipercaya… jika dahulu ia hidup hanya untuk dirinya sendiri, lalu kini hidupnya memberi manfaat bagi banyak orang… maka itulah cahaya kemabruran.

 

Kemabruran Tidak Berakhir di Bandara

Banyak orang menangis ketika meninggalkan Makkah. Namun, ujian yang sesungguhnya baru dimulai ketika pesawat mendarat di tanah air.

Di rumah, apakah kita tetap sabar? Di kantor, apakah kita tetap jujur? Dalam usaha, apakah kita tetap menjaga amanah? Di tengah masyarakat, apakah kita menjadi penyejuk atau justru sumber perselisihan?

Kemabruran tidak diuji di depan Ka'bah. Kemabruran diuji dalam kehidupan sehari-hari. Sebab sangat mudah menjadi baik selama beberapa hari di Tanah Suci. Tetapi jauh lebih berat menjaga kebaikan itu sepanjang sisa umur.

 

Haji yang Hidup

Haji yang mabrur tidak berhenti menjadi kenangan. Ia hidup di dalam setiap keputusan. Ia hidup di dalam setiap ucapan. Ia hidup di dalam setiap amanah. Ia hidup di dalam setiap sujud.


Setiap kali seseorang menolak korupsi karena takut kepada Allah, di situlah haji sedang hidup. Setiap kali orang memilih jujur meskipun merugikan dirinya, di situlah haji sedang hidup. Setiap kali seseorang memaafkan orang yang menyakitinya, di situlah haji sedang hidup. Setiap kali seseorang menolong saudaranya tanpa mengharap balasan, di situlah haji sedang hidup.

Sesungguhnya, haji yang diterima Allah tidak hanya dikenang melalui foto-foto perjalanan. Haji yang diterima Allah dikenang melalui perubahan hidup yang dirasakan oleh keluarga, tetangga, sahabat, dan masyarakat.


RENUNGAN

Suatu hari nanti, mungkin orang akan lupa kapan kita berangkat haji. Mereka akan lupa berapa kali kita berumrah. Mereka bahkan mungkin lupa oleh-oleh yang pernah kita berikan.

Namun, mereka tidak akan pernah lupa apabila setelah pulang dari Tanah Suci kita menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih rendah hati, lebih penyayang, dan lebih amanah. Itulah kemabruran yang sesungguhnya.

Karena haji bukan tentang seberapa sering kita datang ke Baitullah. Haji adalah tentang seberapa jauh kita membawa Baitullah ke dalam hati dan kehidupan kita.

Dan ketika Allah menerima haji seorang hamba, hadiah terbesar yang Dia berikan bukan sekadar gelar “haji” di depan namanya. Hadiah terbesar itu adalah hati yang baru, jiwa yang lebih bersih, dan kehidupan yang lebih dekat kepada Allah.

Maka janganlah bercita-cita hanya berangkat haji. Bercita-citalah pulang sebagai hamba yang dicintai Allah.