"Dan sembahlah Tuhanmu
sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)."
(QS.
Al-Hijr: 99)
Pesawat
telah mendarat. Koper telah dibuka. Oleh-oleh telah dibagikan. Ucapan syukur
dan doa dari keluarga telah selesai. Lalu… apakah perjalanan
haji dan umrah telah selesai?
Tidak.
Sesungguhnya, perjalanan yang paling penting justru baru dimulai.
Selama
berada di Tanah Suci, sangat mudah untuk menjadi orang yang rajin
beribadah. Azan berkumandang, ribuan orang bergegas
menuju masjid. Suasana mengajak hati untuk berdzikir. Lingkungan mengingatkan
kita kepada Allah.
Namun
ketika kembali ke rumah, suasananya berbeda. Kesibukan datang kembali.
Pekerjaan menanti. Godaan kembali menghampiri. Di sinilah kemabruran mulai diuji.
Jadilah Cahaya di Tengah Keluarga
Keluarga adalah orang pertama yang akan melihat perubahan. Mereka tidak membutuhkan cerita panjang tentang perjalanan kita. Mereka ingin melihat perubahan dalam diri kita.
Apakah kita menjadi lebih sabar? Lebih lembut kepada pasangan? Lebih perhatian kepada orang tua? Lebih menyayangi anak-anak? Lebih mudah memaafkan? Lebih ringan mengucapkan terima kasih?
Jika keluarga merasakan ketenangan karena kehadiran kita, itulah salah satu buah haji yang mabrur.
Jadilah Teladan di Tengah
Masyarakat
Masyarakat
tidak mengetahui bagaimana kita thawaf. Mereka
tidak melihat bagaimana kita berdoa di Multazam.
Namun mereka melihat bagaimana kita berbicara, bagaimana kita berdagang,
bagaimana kita memenuhi janji, bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Di
situlah nilai haji dan umrah akan terlihat. Bukan dari sorban yang dikenakan.
Bukan dari gelar “haji” di depan nama. Melainkan dari akhlak yang semakin
mulia.
Menjaga Kerinduan kepada Allah
Ada satu kerinduan yang tidak boleh hilang setelah
pulang dari Tanah Suci, yaitu kerinduan untuk selalu dekat dengan Allah.
Kerinduan itu dipelihara dengan salat yang khusyuk, dengan membaca Al-Qur'an, dengan memperbanyak dzikir, dengan menjaga amanah, dengan membantu sesama, dan dengan terus memperbaiki diri.
Jangan
biarkan hati yang pernah menangis di depan Ka'bah kembali mengeras karena
kesibukan dunia. Jangan biarkan air mata di Arafah hanya
menjadi kenangan. Biarkan semua itu menjadi kekuatan untuk menjalani kehidupan
yang lebih baik.
Menjadi Undangan yang Hidup
Orang
yang pulang dari Tanah Suci hendaknya menjadi undangan hidup bagi orang lain.
Bukan dengan banyak bercerita, tetapi dengan akhlaknya.
Ketika
orang melihat kejujurannya, mereka ingin mengenal Islam. Ketika orang
merasakan kelembutannya,
mereka ingin belajar darinya. Ketika orang menyaksikan amanahnya, mereka
percaya bahwa haji benar-benar mampu mengubah manusia. Itulah dakwah yang
paling indah: dakwah melalui keteladanan.
RENUNGAN
Suatu hari nanti, semua
kenangan perjalanan ini mungkin akan memudar. Foto-foto akan tersimpan.
Video-video akan jarang dibuka.
Namun ada satu pertanyaan
yang akan tetap Allah ajukan kepada kita: “apa yang berubah setelah Aku
memanggilmu menjadi tamu-Ku?”
Semoga saat itu kita dapat menjawab, “Ya Allah… aku memang
belum menjadi hamba yang sempurna. Tetapi sejak Engkau memanggilku ke rumah-Mu,
aku tidak pernah berhenti berusaha menjadi lebih baik.”
Itulah jawaban yang semoga
lahir dari hati setiap tamu Allah. Karena sesungguhnya, perjalanan menuju
Baitullah berlangsung beberapa hari. Tetapi perjalanan menuju ridha Allah
berlangsung hingga akhir hayat.
PENUTUP
Buku kecil ini telah selesai
dibaca. Namun semoga perjalanan ruhani yang ada di dalamnya tidak berhenti pada
halaman terakhir.
Jika setelah membaca buku
ini hati kita semakin rindu kepada Baitullah, bersyukurlah. Itu adalah nikmat
dari Allah.
Jika setelah membacanya kita
terdorong memperbaiki salat, menjaga amanah, lebih jujur, lebih sabar, lebih penyayang, dan lebih
dekat kepada Allah, maka itulah tujuan sebenarnya
dari buku ini.
Jangan menunggu dipanggil ke
Tanah Suci untuk menjadi hamba yang baik.
Mulailah hari ini. Mulailah
dari rumah. Mulailah dari hal-hal yang sederhana. Karena Allah melihat setiap
langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas.
Bagi yang belum
berkesempatan berhaji atau berumrah, jangan putus asa. Teruslah berdoa.
Teruslah berikhtiar. Teruslah mempersiapkan hati. Sebab boleh jadi Allah sedang
menyiapkan waktu terbaik untuk memanggil Anda menjadi tamu-Nya.
Bagi yang telah berhaji atau
berumrah, jangan pernah merasa perjalanan telah selesai. Jagalah nilai-nilai
yang telah Allah tanamkan selama berada di Tanah Suci. Jadikan setiap hari
sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan jadikan
seluruh hidup sebagai jawaban atas panggilan Allah.
Akhirnya, marilah kita berdoa:
Ya Allah…
panggillah kami menjadi
tamu-Mu apabila Engkau mengetahui bahwa itu akan mendekatkan kami
kepada-Mu.
Jika kami telah Engkau panggil, jangan biarkan
kami pulang dengan hati yang sama.
Ampunilah
dosa-dosa kami, terimalah amal ibadah kami, kuatkanlah kami untuk menjaga
amanah, dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.
Anugerahkan
kepada kami haji yang mabrur, umrah yang maqbulah, rezeki yang halal dan
berkah, hati yang bersih, akhlak yang mulia, serta
akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Pertemukanlah
kami kembali dengan Baitullah, dan pada akhirnya pertemukanlah kami dengan- Mu
dalam keadaan Engkau
ridha kepada kami.
Aamiin Ya Rabbal
'Alamin.
PESAN PENYUSUN
Tim
ATRIA menyusun buku saku ini sebagai ikhtiar sederhana untuk menghadirkan
edukasi haji dan umrah yang mudah dipahami, menyentuh hati, dan mengajak setiap
muslim memaknai ibadah sebagai jalan perubahan diri.
Semoga
setiap huruf dalam buku ini menjadi ilmu yang bermanfaat, setiap kalimat
menjadi pengingat, dan setiap pembacanya memperoleh cahaya
hidayah serta kerinduan yang semakin besar kepada
Baitullah dan kepada Allah SWT.
"Haji dan umrah bukan sekadar perjalanan menuju Baitullah,
tetapi perjalanan kembali kepada Allah. Persiapkan bukan hanya biaya, koper, dan dokumen,
tetapi juga hati yang ikhlas, ilmu yang benar, akhlak yang mulia, serta tekad
untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga setiap langkah menuju Baitullah
menjadi langkah menuju ampunan, rahmat,
dan ridha Allah SWT."
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena
Allah."
(QS.
Al-Baqarah: 196)
"Allah tidak memanggil
semua orang ke Baitullah,
tetapi Allah memanggil setiap hati untuk kembali kepada-Nya."









