• Jl.Raya Kupang Jaya 1 Kav. 6 Surabaya

Travel Atria

2. Haji dan Umrah : perjalanan menuju ALLAH

"… Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…"

(QS. Al-Baqarah: 196)

 

Mengapa Allah memerintahkan haji dan umrah? Apakah agar manusia dapat mengatakan, “aku sudah pernah ke Makkah”? Tentu bukan. Allah tidak memerintahkan sesuatu yang sia-sia. Di balik setiap perintah-Nya selalu tersimpan hikmah yang membawa kebaikan bagi manusia. Haji dan umrah bukan sekadar perjalanan menuju sebuah kota bernama Makkah. Bukan pula perjalanan untuk melihat bangunan Ka'bah yang telah berdiri sejak zaman Nabi Ibrahim 'alaihissalam.


Sesungguhnya, haji dan umrah adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah menuju miqat mengajarkan kita untuk meninggalkan dosa. Setiap helai kain ihram mengingatkan bahwa suatu hari kita akan menghadap Allah tanpa membawa jabatan, kekayaan, maupun kebanggaan dunia. Setiap putaran thawaf mengajarkan bahwa hanya Allah yang pantas menjadi pusat kehidupan kita. Setiap langkah sa'i mengajarkan bahwa harapan tidak boleh berhenti, sekalipun jalan terasa berat. Setiap wukuf di Arafah mengingatkan bahwa kelak seluruh manusia akan berdiri di Padang Mahsyar menunggu keputusan Allah. Maka, seluruh rangkaian haji dan umrah sesungguhnya adalah pelajaran tentang kehidupan. 


Banyak orang mampu menceritakan berapa kali ia mencium Hajar Aswad, berapa kali ia berdoa di Multazam, atau berapa lama ia tinggal di Tanah Suci. Namun Allah tidak akan bertanya berapa hari kita berada di Makkah. Allah akan melihat apa yang berubah setelah kita pulang. 



Jika sebelum berangkat kita mudah marah, lalu menjadi penyabar…

Jika dahulu kita sulit memaafkan, lalu menjadi pemaaf…

Jika dahulu kita lalai menjaga salat, lalu menjadi hamba yang menjaga salat…

Maka perjalanan itu telah menemukan maknanya. 


Sebaliknya, jika yang berubah hanya foto-foto di telepon genggam, sementara hati tetap sama, maka kita patut bertanya kepada diri sendiri: sudahkah aku benar-benar memenuhi panggilan Allah? Haji dan umrah bukanlah akhir dari perjalanan. Justru itulah awal dari kehidupan yang baru. Allah mengundang kita ke rumah-Nya agar sepulangnya kita menjadi pribadi yang lebih dekat kepada-Nya. 


Karena itu, jangan jadikan haji dan umrah sebagai kebanggaan. Jadikanlah keduanya sebagai awal perubahan.

RENUNGAN
Tidak semua orang yang sampai di Ka'bah berhasil menemukan Allah. Tetapi setiap orang yang benar-benar menemukan Allah akan membawa cahaya-Nya ke mana pun ia pulang. Maka jangan hanya berdoa, “Ya Allah, sampaikan aku ke Baitullah.” Berdoalah pula, “Ya Allah, jangan biarkan aku pulang sebelum Engkau mengubah hatiku.”

Hikmah yang perlu dibawa pulang

Seseorang dikatakan berhasil dalam perjalanan haji dan umrah bukan karena banyaknya oleh-oleh yang dibawanya, melainkan karena banyaknya kebaikan yang tumbuh setelah kepulangannya. Baitullah bukanlah tujuan akhir. Baitullah adalah tempat Allah mengajarkan kita bagaimana menjalani sisa umur dengan lebih bertakwa, lebih jujur, lebih amanah, lebih sabar, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Perjalanan menuju Tanah Suci hanya berlangsung beberapa hari. Tetapi perjalanan menuju ridha Allah berlangsung sepanjang hidup.