• Jl.Raya Kupang Jaya 1 Kav. 6 Surabaya

Travel Atria

4. Lima Perjalanan Seorang Tamu Allah

"Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Banyak orang mengira, haji dan umrah hanyalah satu perjalanan, yaitu perjalanan dari rumah menuju Tanah Suci.

Sesungguhnya, setiap tamu Allah sedang menjalani lima perjalanan sekaligus. Semakin ia memahami kelima perjalanan ini, semakin ia mengerti bahwa haji dan umrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan kehidupan.

 

1.  Perjalanan Fisik

Inilah perjalanan yang paling mudah dilihat. Seseorang meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan kesibukannya. Ia menempuh ribuan kilometer demi memenuhi panggilan Allah.

Namun perjalanan yang jauh itu mengajarkan satu kenyataan: betapa lemahnya manusia. Tubuh bisa lelah. Kaki bisa sakit. Cuaca bisa sangat panas. Jadwal bisa berubah. Tidak semua yang direncanakan berjalan sesuai harapan.


Saat itulah seorang hamba belajar bersabar, menerima, dan bertawakal. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah musafir yang sepenuhnya bergantung kepada pertolongan Allah.

 

2.  Perjalanan Ilmu

    Tidak ada ibadah yang baik tanpa ilmu. Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah dariku tata cara pelaksanaan hajimu.”

Karena itu, sebelum berangkat, seorang muslim tidak cukup hanya menyiapkan paspor dan koper. Ia juga harus menyiapkan pemahaman. Ia belajar rukun haji, wajib haji, larangan ihram, adab berdoa, serta hikmah di balik setiap ibadah.

Ilmu bukan sekadar agar ibadah menjadi sah. Ilmu membuat ibadah menjadi hidup. Orang yang memahami makna thawaf akan berbeda dengan orang yang hanya mengelilingi Ka'bah. Orang yang memahami makna sa'i akan berbeda dengan orang yang sekadar berjalan antara Shafa dan Marwah. Semakin dalam ilmunya, semakin khusyuk ibadahnya.

 

3.  Perjalanan Hati

Inilah perjalanan yang paling menentukan. Tidak semua orang yang sampai di Makkah berhasil membawa hatinya sampai kepada Allah.

Ada yang tubuhnya thawaf, tetapi pikirannya masih sibuk mengejar dunia. Ada yang lisannya bertalbiyah, tetapi


hatinya masih dipenuhi kesombongan. Padahal Allah lebih dahulu melihat hati daripada melihat langkah kaki.

Hati yang dipenuhi keikhlasan akan merasakan kedekatan dengan Allah, meskipun berada di tengah jutaan manusia. Sebaliknya, hati yang dipenuhi riya, iri, dan kebencian akan tetap merasa jauh, sekalipun berdiri di depan Ka'bah. Karena itu, sebelum membersihkan pakaian ihram, bersihkanlah hati. Sebab hati yang bersih adalah bekal terbaik menuju Baitullah.

 

4.  Perjalanan Ibadah

Haji dan umrah mengajarkan bahwa hidup seorang muslim adalah ibadah. Setiap langkah bernilai ibadah. Setiap kesabaran bernilai ibadah. Setiap senyum kepada sesama jemaah bernilai ibadah. Setiap bantuan yang diberikan kepada orang lain bernilai ibadah.

Allah tidak hanya menilai ibadah-ibadah besar. Allah juga mencintai akhlak yang baik. Boleh jadi seseorang tidak mampu mencium Hajar Aswad karena padatnya jemaah. Namun ia memilih mengalah, tidak mendorong, dan menjaga saudaranya.

Di sisi Allah, akhlak itu jauh lebih bernilai daripada memaksakan diri demi sesuatu yang hukumnya hanya sunnah. Di Tanah Suci, kita belajar bahwa ibadah tidak pernah boleh mengalahkan akhlak.


5.  Perjalanan Perubahan

Inilah tujuan dari seluruh perjalanan. Haji dan umrah bukanlah kisah tentang keberangkatan. Haji dan umrah adalah kisah tentang kepulangan.

Jika sebelum berangkat seseorang mudah marah, lalu menjadi penyabar… Jika dahulu sulit memaafkan, lalu menjadi pemaaf… Jika dahulu lalai menjaga amanah, lalu menjadi pribadi yang dapat dipercaya… Jika dahulu hidup hanya untuk dirinya sendiri, lalu mulai hidup memberi manfaat kepada sesama… maka ia telah menemukan makna perjalanan yang sebenarnya.

Haji yang mabrur tidak berhenti di Makkah. Ia terus hidup di rumah, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, dan di mana pun seorang muslim berada.


RENUNGAN

Sebelum berangkat, tanyakanlah kepada diri sendiri: perjalanan apa yang sedang kucari? Apakah hanya perjalanan melihat Ka'bah? Ataukah perjalanan untuk menemukan Allah?

Karena Ka'bah hanya ada di Makkah. Tetapi Allah bersama hamba-Nya di mana pun ia berada.

Maka pulanglah bukan hanya dengan koper yang penuh oleh-oleh. Pulanglah dengan hati yang lebih bersih, akhlak yang lebih mulia, ibadah yang lebih khusyuk, dan tekad yang lebih kuat untuk menjadi hamba yang dicintai Allah. Itulah bekal terindah yang dapat dibawa pulang oleh setiap tamu Allah.