• Jl.Raya Kupang Jaya 1 Kav. 6 Surabaya

Travel Atria

5. IHRAM - Melepaskan Kesombongan, Memakai Ketakwaan

"… Dan pakaian takwa itulah yang paling baik…"

(QS. Al-A'raf: 26)

 

Perjalanan haji dan umrah dimulai dari miqat. Di tempat itulah setiap tamu Allah mengenakan pakaian ihram.

Bagi laki-laki, hanya dua lembar kain putih yang sederhana. Tidak dijahit, tidak menunjukkan status, tidak membedakan kaya atau miskin. Bagi perempuan, tetap mengenakan pakaian yang menutup aurat dengan sederhana, tanpa berhias untuk menarik perhatian.

Mengapa Allah memulai perjalanan suci ini dengan pakaian yang begitu sederhana? Karena Allah ingin mengajarkan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak terletak pada apa yang dikenakannya, tetapi pada apa yang ada di dalam hatinya.

Selama hidup di dunia, manusia sering dinilai dari penampilan. Ada yang dihormati karena jabatannya, dipuji karena kekayaannya, atau disegani karena kedudukannya.

Namun, ketika memasuki Tanah Suci, semua itu ditanggalkan. Tidak ada lagi pakaian kebesaran. Tidak ada lagi lambang kehormatan. Tidak ada lagi perbedaan antara pejabat dan rakyat, pengusaha dan buruh, profesor dan petani. Semua berdiri sebagai hamba Allah. Di hadapan- Nya, semua sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Pakaian ihram juga mengingatkan kepada selembar kain yang suatu hari akan membungkus jasad kita. Ketika manusia meninggal dunia, ia tidak membawa rumahnya. Tidak membawa hartanya. Tidak membawa pangkatnya. Ia hanya membawa amalnya.

Bukankah kain ihram seakan berkata, “Wahai manusia, suatu hari engkau akan kembali kepada Allah dalam keadaan yang sangat sederhana. Maka persiapkanlah bukan pakaianmu, tetapi amalmu”?

Sejak mengenakan ihram, seorang jemaah juga dilarang melakukan beberapa hal yang sebelumnya dibolehkan: tidak boleh bertengkar, tidak boleh berkata kotor, tidak boleh menyakiti makhluk hidup, tidak boleh merusak tanaman, tidak boleh melampiaskan hawa nafsu.

Mengapa? Karena Allah sedang mendidik hamba-Nya agar mampu mengendalikan dirinya. Haji bukan hanya mengajarkan bagaimana berjalan mengelilingi Ka'bah. Haji mengajarkan bagaimana mengendalikan hati. Sebab musuh terbesar manusia bukanlah orang lain. Musuh terbesarnya adalah hawa nafsunya sendiri.

Orang yang mampu menahan amarah ketika berdesakan. Orang yang mampu bersabar ketika harus menunggu. Orang  yang  mampu  tersenyum  ketika  menghadapi kesulitan. Dialah yang sedang mengenakan ihram bukan hanya pada tubuhnya, tetapi juga pada hatinya.

Sesungguhnya, pakaian ihram akan dilepas beberapa hari kemudian. Tetapi pakaian ketakwaan harus tetap dikenakan sepanjang hidup.


RENUNGAN

Ketika mengenakan ihram, Allah seakan bertanya kepada setiap

hamba, “apa yang masih engkau banggakan di hadapan-Ku?”

Jika semua pakaian kebesaran harus dilepas… jika semua gelar harus ditinggalkan… jika semua manusia berdiri sama… lalu, apakah yang akan kita bawa menghadap Allah selain iman, ketakwaan, dan amal saleh?

Maka jangan hanya mengenakan kain ihram. Kenakanlah pula kerendahan hati. Jangan hanya meninggalkan pakaian kebesaran. Tinggalkan pula kesombongan. Karena sesungguhnya, tamu Allah yang paling mulia bukanlah yang paling terkenal, melainkan yang paling rendah hati di hadapan Rabb-nya.