"… Dan pakaian
takwa itulah yang paling baik…"
(QS.
Al-A'raf: 26)
Perjalanan
haji dan umrah dimulai dari miqat. Di tempat itulah setiap tamu Allah
mengenakan pakaian ihram.
Bagi
laki-laki, hanya dua lembar kain putih yang sederhana. Tidak dijahit, tidak
menunjukkan status, tidak membedakan kaya atau miskin. Bagi perempuan, tetap
mengenakan pakaian yang menutup aurat dengan sederhana, tanpa berhias untuk
menarik perhatian.
Mengapa
Allah memulai perjalanan suci ini dengan pakaian yang begitu sederhana? Karena
Allah ingin mengajarkan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak terletak pada apa yang dikenakannya, tetapi pada apa yang
ada di dalam hatinya.
Selama
hidup di dunia, manusia sering dinilai dari penampilan. Ada yang dihormati karena jabatannya, dipuji karena kekayaannya, atau disegani
karena kedudukannya.
Namun, ketika memasuki Tanah Suci, semua itu ditanggalkan. Tidak ada lagi pakaian kebesaran. Tidak ada lagi lambang kehormatan. Tidak ada lagi perbedaan antara pejabat dan rakyat, pengusaha dan buruh, profesor dan petani. Semua berdiri sebagai hamba Allah. Di hadapan- Nya, semua sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Pakaian
ihram juga mengingatkan kepada selembar kain yang suatu hari akan membungkus
jasad kita. Ketika manusia meninggal dunia, ia tidak membawa rumahnya. Tidak
membawa hartanya. Tidak membawa pangkatnya. Ia hanya membawa amalnya.
Bukankah
kain ihram seakan berkata, “Wahai manusia, suatu hari engkau akan kembali
kepada Allah dalam keadaan yang sangat sederhana. Maka persiapkanlah bukan
pakaianmu, tetapi amalmu”?
Sejak
mengenakan ihram, seorang jemaah juga dilarang melakukan beberapa hal yang
sebelumnya dibolehkan: tidak boleh bertengkar, tidak boleh berkata kotor, tidak
boleh menyakiti makhluk hidup, tidak boleh merusak tanaman, tidak boleh
melampiaskan hawa nafsu.
Mengapa?
Karena Allah sedang mendidik hamba-Nya agar mampu mengendalikan dirinya. Haji
bukan hanya mengajarkan bagaimana berjalan mengelilingi Ka'bah. Haji
mengajarkan bagaimana mengendalikan hati. Sebab musuh terbesar manusia bukanlah
orang lain. Musuh terbesarnya adalah hawa nafsunya sendiri.
Orang yang mampu menahan amarah ketika berdesakan. Orang yang mampu bersabar ketika harus menunggu. Orang yang mampu tersenyum ketika menghadapi kesulitan. Dialah yang sedang mengenakan ihram bukan hanya pada tubuhnya, tetapi juga pada hatinya.
Sesungguhnya,
pakaian ihram akan dilepas beberapa hari kemudian. Tetapi pakaian ketakwaan
harus tetap dikenakan sepanjang hidup.
RENUNGAN
Ketika mengenakan ihram, Allah seakan bertanya kepada setiap
hamba, “apa yang masih engkau
banggakan di hadapan-Ku?”
Jika semua pakaian kebesaran
harus dilepas… jika semua gelar harus ditinggalkan… jika semua manusia berdiri
sama… lalu, apakah yang akan kita bawa menghadap Allah selain iman, ketakwaan,
dan amal saleh?
Maka jangan hanya mengenakan
kain ihram. Kenakanlah pula kerendahan hati. Jangan hanya meninggalkan pakaian kebesaran.
Tinggalkan pula kesombongan. Karena sesungguhnya, tamu Allah
yang paling mulia bukanlah yang paling terkenal, melainkan yang paling
rendah hati di hadapan Rabb-nya.









